Pentingnya Mencintai Sahabat Rasulullah (Bag. 1)

0
17
umar

Oleh: Tate Qomaruddin

Dari Abdullah bin Mas’ud (semoga Allah meridhoinya), dari Nabi Saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Muttafaq ‘alaih)

“Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Karena, demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya seandainya seseorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud tidaklah akan menyamai infak sebanyak genggaman tangan mereka dan tidak pula setengahnya.” (H.R. Tirmidzi dan Abu Dawud)

“Sahabat Rasulullah Saw. (semoga Allah meridhoi mereka)” dalam bahasa Arab biasa disebut dengan kata shahabatu rasulillah atau ash-shahabah saja atau ashhabu rasulillah. Ada kata lain yang juga sering digunakan untuk menyebut sahabat Nabi, yakni shahbu, seperti yang biasa kita dengar dalam kalimat shalawat wa ‘alaa alihi washahbihi. Jika dalam bahasa Arab disebut ash-shahabah, maka maksudnya tidak lain adalah para sahbat Rasulullah Saw. Nah, ash-shahabah merupakan kata jamak dari ash-shahabi. Dan, ash-shahabi didefiniskan sebagai orang yang berjumpa dengan Rasulullah Saw., beriman kepadanya, dan wafat dalam keadaan iman.

Jadi, sahabat Nabi adalah generasi pertama umat Rasulullah Saw. Generasi yang hidup, beriman kepadanya, dan berjuang bersamanya. Generasi sesudah mereka, yakni kaum muslimin yang tidak berjumpa dengan Rasulullah Saw. dan hanya berjumpa dengan para sahabat disebut tabi’in. Dan, generasi sesudah itu disebut tabi’ut-tabi’in.

Generasi sahabat adalah generasi rabbani yang tiada taranya di dalam sejarah. Disebut generasi rabbani karena mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta mereka kepada diri dan keluarganya. Mereka menerima Islam, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan kemudian memperjuangkannya. Tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa hari-hari kita mendapatkan hidayah untuk beribadah kepada Allah adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan para sahabat Nabi. Terutama, generasi awal yang turut serta dalam perang Badar bersama Rasulullah Saw. Tentang peran para sahabat dalam perjuangan menaburkan cahaya kebenaran dalam kehidupan, Rasulullah Saw. sendiri menyatakannya saat melantunkan doa menjelang kecamuk perang Badar tersebut. “Ya Allah, jika kelompok ini (para prajurit Badar) binasa niscaya Engkau tak lagi disembah di muka bumi,” demikian lantunan doa Rasulullah.

Jika Rasulullah Saw. mengatakan, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran tanpa dapat dibahayakan oleh orang yang menentang dan menistakan mereka…” maka mata rantai paling utama dari perjalanan penegakkan kebenaran itu adalah generasi pertama, yakni para sahabat Rasulullah Saw. Mereka begitu mencintai Rasulullah Saw. dan beliau pun begitu mencintai mereka. Gambaran kecintaan mereka kepada Rasulullah Saw. sulit dicari tandingannya pada generasi mana pun. Bahkan, Allah Swt. menyebut mereka sebagai khairu ummah atau umat terbaik, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (Q.S. Ali Imran [3]: 110)

Sungguh luar biasa nilai dan keutamaan para sahabat itu. Bukan saja telah mencatatkan kejayaan dan kemuliaan bagi umat pada masanya, mereka juga hingga kini terus memberikan inspirasi dan semangat yang tidak pernah terbendung. Karena, mereka adalah generasi mukhlishin (orang-orang ikhlas) sehingga segala jejak amalnya memiliki pengaruh yang tiada terhenti. Semangat kebangkitan dari keterpurukan dan perlawanan terhadap kebatilan serta penjajahan hari ini, banyak mengambil inspirasi dari mereka.
Dapatlah dimengerti jika ada pihak-pihak yang berupaya untuk memutus komunikasi spiritual dan komunikasi sejarah antara umat hari ini dengan para sahabat Rasul.

Upaya memutus komunikasi itu misalnya dengan mengatakan, “Untuk apa selalu berbicara masa lalu (para sahabat)? Masa lalu tidak akan kembali. Model kehidupan masa lalu tidak mungkin diterapkan hari ini. Adalah kebodohan untuk menjiplak perilaku orang yang hidup di masa lalu untuk diterapkan hari ini.” Memang, selalu ada saja orang-orang yang khawatir bahwa semangat perjuangan Islam akan bergelora kembali zaman sekarang. Padahal, perjuangan Islam bertujuan memberdayakan, menegakkan keadilan, dan mensejahterakan manusia.

Ada lagi yang membenci, mencaci maki, menistakan, bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi itu. Tanpa segan dan risi, para pencaci itu mengumbar kebencian dan melekatkan julukan-julukan yang mereka buat sendiri kepada orang-orang yang Rasulullah Saw. cintai itu. Dengan ‘gagah berani’, para pencela itu memosisikan diri (tanpa mendapat legitimasi dari siapa pun) sebagai hakim yang menghukumi orang-orang yang telah nyata-nyata berjuang bersama Rasulullah Saw.

Apa dampaknya? Jika para sumber informasi dan ilmu tentang Al-Quran dan sunnah itu ‘dibantai’ dengan cara dicaci dan dikafirkan, maka akan lenyaplah sejumlah sendi Islam dan tumbanglah sekian banyak hal esensial dan prinsipil dalam Islam. Karena, hadits-hadits Rasulullah Saw. memang disampaikan kepada kita melalui jalur para sahabat…….(bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini