Edukasi Seks untuk Anak Bukan Lagi Hal Tabu

0
105

Sebagian besar orang tua terkadang baru menyadari jika anak-anak mereka sudah tumbuh remaja. Anak-anak mereka sudah mengalami apa yang disebut dengan masa pubertas atau masa peralihan dari anak-anak menuju remaja atau pra dewasa. Hal yang terlihat pada masa ini baik fisik maupun psikisnya akan mengalami perubahan menjadi lebih sempurna. Secara fisik terlihat dari berkembangnya fungsi reproduksi sementara secara psikologis terjadi perubahan emosional yang labil.

Seperti garis lurus, maka jika anak memasuki masa pubertas seharusnya mereka juga memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) atau seksologi yang diajarkan sejak dini pula. Sayangnya, sebagaian besar mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap dan menilai bahwa perihal seks dan kesehatan reproduksi adalah sesuatu yang “tabu” untuk dibahas, apalagi untuk dibicarakan kepada anak-anaknya. Padahal, jika kita mengacu pada proses atau tahapan pendidikan anak, membicarakan hal ini sudah merupakan tanggung jawab orangtua sehingga kelak anak mempunyai pemahaman yang baik tentang dirinya dan apa yang ada pada dirinya termasuk fungsinya.

iklan

Berdasarkan teori, peletakan dasar landasan pendidikan seks yang efektif dan paling mudah adalah saat prasekolah. Pada usia ini perkembangan otak anak sangat pesat mencapai 80persen sehingga dinamakan “masa emas”. Hasil pendidikan yang ditanamkan (selama sesuai dengan perkembangannya) akan lebih merasuk pada jiwa dan terekam kuat pada ingatan anak. Begitu juga dengan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi sejak dini. Penyampaian yang wajar, jujur, dan sederhana, serta menggunakan bahasa yang mereka pahami, akan membentuk konsep diri anak yang positif. Anak juga bisa melindungi kesehatan diri serta menjaga diri dari ancaman kekerasan seksual dikemudian hari.

Psikolog anak dan remaja, Alva Handayani mengatakan anak yang mengalami masa puber adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dikawatirkan para orangtua. Meski pubertas dini sering kali membuat orangtua bingung namun yang perlu dilakukan orangtua adalah memberi pemahaman dan penjelasan yang tepat sesuai dengan tingkat logikanya. Ia (anak) tengah mengalami suatu kejadian yang luar biasa sehingga pengetahuan tentang apa yang tengah terjadi dengan dirinya sangat penting. Jika ia tidak mendapatakan penjelasan dari orang yang dipercaya (orangtua) maka sangat dimungkinkan ia mencari tahu dengan yang lain baik bertanya pada temannya atau mencari tahu lewat media lain (buku,internet) yang bisa berbahaya.

Mungkin yang sulit bagi orangtua adalah saat untuk memulai pembicaraan atau memberi penjelasannya. Untuk itu, orangtua harus mencari momen yang tepat sesuai dengan situasi atau mood anak. Saat yang tepat adalah saat anak bertanya berarti ia mengingingkan pengetahuan. Selain itu saat menonton televisi ada iklan tentang pembalut misalnya, maka momen itu bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan fungsi pembalut tersebut.

Alva menambahkan, sebelum berbicara pentingnya pendidikan seksologi pada anak maka orangtua harus menyiapkan diri dalam masalah pendidikan anak itu sendiri khususnya referensi yang memadai agar tidak tidak salah memberi penjelasan. Sebelum mengajarkan pentingnya nilai-nilai tersebut pada anak, maka pastikan orangtua mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam perilakunya sehari-hari. Sebelumnya orangtua harus menjadi model (teladan) yang baik dalam proses pendidikan tersebut. Hal awal yang perlu untuk dilakukan orangtua adalah mengajarkan kasih sayang,saling menghormati antar anggota keluarga dan menjaga hubungan yang harmonis.

Dalam proses pendidikan ini, orangtua juga harus menyesuaikan dengan perkembangan anak dan dilakukan setahap demi setahap. Pahami juga sudah sejauh mana perkembangan anak baik fisik maupun sisi psikologisnya,siapa temannya dan sebagainya. Untuk dapat memasuki dunia anak, maka orangtua harus mengetahui dunia anak itu sendiri. Selain itu, orangtua perlu membuat kesepatan bersama tentang aturan apa yang sementara boleh atau tidak boleh ditanyakan sesuai dengan tingkat usia anak.

Setidaknya ada dua faktor mengapa sex education sangat penting bagi anak-anak atau remaja. Faktor pertama adalah di mana anak-anak yang mulai tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan sex education, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adalah hal yang tabu. Sehingga dari ketidakpahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggungjawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.

Faktor kedua, dari ketidakpahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat, banyak yang menawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain DVD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakpahaman remaja tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV/AIDS dan sebagainya.

Dengan menerapkan edukasi seks yang tepat, khususnya sejak dini,  anak-anak diharapkan dapat memperoleh pengetahuan yang lengkap tentang organ reproduksinya. Dengan kemampuan untuk menjaga organ-organ reproduksi pada tubuh mereka dan orang lain tidak boleh menyentuh organ reproduksinya khususnya bagi remaja putri,mereka akan melindungi diri sendiri.

Untuk tahap awal orangtua bisa memberi pengajaran tentang menutup aurat sejak kecil, seperti tetap berpakaian atau memakai handuk saat keluar dari kamar mandi. Toilet traning ini sebenarnya bisa menjadi pondasi yang baik bagi anak dalam hal kebersihan.Begitupun dengan mengajarkan cara memakai jilbab bagi anak perempuan.Namun yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa apa yang diajarkan kepada anak juga harus ditaati orangtua,misalnya orangtua tidak ganti pakain ditempat umum dengan terbuka. Pendidikan seks sejak dini harus dimulai dari keluarga karena orangtua adalah orang pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Yang dibutuhkan anak seputar pendidikan kespro meliputi penempatan dan batasan nilai yang jelas,informasi yang akurat,rasa dihargai sebagai seorang individu,ketrampilan membuat keputusan dan berkomunikasi.Kebahagiaan sejati timbul dari kemampuan untuk menghargai seseorang atau menghargai suatu hubungan. Kesehatan seksual timbul dari gambar diri yang positif, yang didasarkan pada corak kepribadian yang kuat seperti pengendalian diri, tanggung jawab pribadi, kejujuran dan kebaikan. Orangtua harus yakin bahwa berbicara tentang seks pada anak tidak mengakibatkan anak terdorong untuk melakukan seks.

Orangtua perlu memiliki persiapan ketika menjawab pertanyaan anak soal seks. Persiapan itu adalah mencari tahu apa yang telah diketahui anak lalu buatlah jawaban yang ringkas. Orang tua juga perlu mengajukan lebih banyak pertanyaan untuk menggali pengetahuannya. Jika ada pertanyaan yang serius dan perlu penjelasan detail maka cari waktu untuk mengadakan pembicaraan lanjutan. Jadi jangan tabukan soal ini, bukankah Islam telah mengajarkan?

[Disarikan dari buku “Anak Anda Bertanya Seks?” tulisan Alva Handayani dan Aam Amiruddin yang diterbitkan Khazanah Intelektual]