Mengatasi Kurang Percaya Diri Saat Berdakwah

0
131

TANYA :

Teh Sasa, saya seorang ukhti yang aktif berorganisasi tapi saya masih memiliki banyak kekurangan, khususnya kurang percaya diri dalam berdakwah bila harus berbicara di hadapan majelis. Seiring itu, kadang saya merasa iri bila melihat teman seorganisasi bisa menyampaikan sesuatu di hadapan majelis dengan lancar, tenang dan mudah dipahami. Pertanyaannya, bagaimana cara mengatasi rasa kurang percaya diri saya dan bolehkah merasa iri melihat kesuksesan orang lain?

iklan

JAWAB :

Alhamdulillah, ukhti ada keinginan untuk menyampaikan pendapat dan berdakwah di depan forum. Tentu hal ini memerlukan tahapan dan proses.  Salah satu pembuka jalan adalah dengan sering menghadiri majelis-majelis ilmu. Insya Allah perilaku ini dapat menjadi jalan hidayah buat ukhti. Selain itu, luruskan  niat hati. Yakini hal tersebut sebagai  bagian dari tanggung jawab seorang muslimah dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Ada dua poin yang perlu ditakankan di sini. Pertama, berdakwah adalah jalan mulia. Berperan serta mengajak umat ke jalan Allah Swt. adalah perbuatan mulia, seperti jalan yang telah ditempuh para Nabi, Rasulullah Saw., dan para syuhada. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah Swt. berfirman,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.’” (Q.S Fushshilat [41]: 33)

Oleh karena itu, apabila  akan tampil (berdakwah), terlebih dahulu mencari referensi yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas di forum tersebut. Buatlah persiapan, catatan, atau rangkuman materi yang akan didiskusikan. Belajarlah ilmu retorika dakwah sehingga ukhti dapat berpartisipasi aktif; baik bertanya, memberi solusi jawaban, memberikan saran atau kritikan. Sadari bahwa hal tersebut bukan ajang ingin tampil memukau di depan orang lain. Aktif dalam forum dakwah bukan ingin disebut sebagai orang pintar atau ingin benar sendiri.

Ukhti tersayang, singkirkanlah rasa malu karena belum terbiasa atau  kurang percaya diri karena berdakwah adalah tugas mulia. Agar semua dimudahkan, mohonlah pertolongan kepada Allah Swt. dengan memanjatkan doa,

Katakanlah, “Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S. Thaha [20]: 114)

Atau

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusan­ku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku. Dan jadikanlah bagiku seorang pembantu dari keluargaku sendiri.”  (Q.S. Thaha [20]: 25-29)

Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin dengan bantuan dan pertolongan-Nya.

Perlu diingat bahwa tahapan dalam berdakwah adalah membina hubungan taaruf atau perkenalan dengan subjek dakwah (mad’u), tujuan semata-mata saling membangun kekuatan iman, mengajak menjaga amalan fardhu, ber-akhlakul karimah, menjabarkan bahwa ibadah itu tidak hanya yang mahdah (ditentukan tata caranya seperti, shalat, shaum, zakat dll.) saja, tetapi meliputi segala aspek kehidupan, yaitu amal ghairu mahdah (kegiatan bermuamalah, berinteraksi sosial dan bernegara). Dakwah adalah kegiatan satu kesatuan jamaah umat Islam dan tidak dibatasi batas-batas negara.

Hidupkan selalu semangat membaca untuk memperluas  wawasan. Tidak terbatas tentang ilmu agama saja, tetapi juga meliputi pengetahuan umum, mengamalkan ilmu yang sudah diketahui, membuka jaringan silaturahmi, berlatih menyimak materi dakwah orang lain, mengutarakan pendapat, dan  mengajukan pertanyaan  di depan forum. Insya Allah (dakwah) ukhti kelak menjadi  jalan hidayah untuk orang lain juga.

Kedua, bersikap rendah hati. Buanglah sifat iri hati karena tidak ada iman saat kita iri dengki pada kelebihan orang lain. Ini sebagaimana hadits yang menyatakan, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.”  (H.R. Mutafaq Alaih)

Sebuah keterangan hadist lain mengingat­­kan, “Janganlah kalian saling memutus­kan hubungan, saling bermusuhan, saling membenci, dan jangan pula saling dengki,­ tetapi jadilah kalian saudara seba­gai­mana diperintahkan Allah.” (H.R. Muslim)

Setiap hadir dan tampil di forum apa pun, sadari oleh ukhti bahwa dalam kesempatan tersebut ukhti sedang menjalin silaturahmi, bertukar pikiran karena dapat dipastikan bahwa dalam forum tersebut ada orang yang lebih tahu dari kita atau sebaliknya. Jadi, satu sama lain harus saling melengkapi  ilmu. Yang terpenting, ciptakan forum saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. (Q.S. [103]: 3)

Wallahu ‘alam bishawwab.

(Hj. Sasa Esa Agustiana)

 
Anda punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di Mapionline.com? Kirimkan karya tulis Anda ke email [email protected]  Info lengkapnya di sini