Bagaimana Hukum Mendonorkan Organ Tubuh?

donor

Ustadz Aam,  saya ingin bertanya masalah donor. Yang saya tahu, selama ini donor darah sudah biasa dilakukan dan tidak menjadi perdebatan lagi. Namun, akhir-akhir ini saya sering mendengar adanya donor organ tubuh, selain donor darah. Bagaimana hukum mendonorkan organ tubuh tersebut? Mohon penjelasannya berdasarkan dalil yang ada. Terima kasih.

 

 

Kasus tentang donor organ tubuh tidak ada pada zaman Rasulullah. Berkat kemajuan teknologi, kini, donor tersebut bisa dilakukan. Saat ini, selain bisa mendonorkan darah, orang bisa mendonorkan ginjal, mata, dan hati. Proses donor organ tubuh adalah melalui transplantasi, yaitu pemindahan organ tubuh dari orang yang sehat atau dari mayat yang masih mempunyai daya hidup, ke tubuh orang lain yang organ tubuhnya tidak berfungsi lagi agar bisa bertahan hidup.

Pada prinsipnya, Islam menyuruh kita untuk berobat, “walaa tulku bi aidikum ila ahluka” (dan janganlah kamu menjerumuskan diri kepada kebinasaan). Ini mengandung makna bahwa bila menderita suatu penyakit yang apabila tidak diobati akan membinasakan, maka kita wajib untuk berobat.

Salah satu bentuk pengobatan adalah melalui transplantasi. Pengobatan melalui transplantasi merupakan bentuk muamalah atau urusan duniawi. Ada satu kaidah hukum tentang urusan duniawi, yaitu “al aslu fil mu’amalati al ibahah ila madalla dailun ‘ala nahyi” (pada prinsipnya dalam urusan muamalah atau duniawi itu diperbolehkan kecuali kalau ada dalil yang melarangnya), artinya kita diperbolehkan untuk melakukannya selama tidak ada dalil yang melarang.

Kita semua sepakat bahwa tidak ada dalil yang melarang donor organ tubuh. Dengan demikian, kita diperbolehkan melakukannya selama masih dalam wilayah tolong-menolong untuk berbuat kebajikan. Dalam surat Al-Maaidah ayat 2, Allah berfirman “ta’aawanu ‘alal birri wa taqwa walaa ta’aawanu ‘ala itsmi wal udwan” (tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan dan jangan kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran).

 

BACA JUGA  Anak Menasehati Ibu, Malah Bertengkar. Dosakah Si Anak?

Menolong orang lain merupakan perbuatan mulia, tetapi tetap harus dilihat kondisi si penolong dan dampak dari pendonoran tersebut. Apabila akan mencelakakan, donor menjadi terlarang. Dalam surat Al-Baqarah ayat 195, “walaa tulquu bi aidiikum ila tahluka” (Jangan kamu menjerumuskan dirimu pada kebinasaan). Dengan demikian, apabila proses donor berdampak mencelakakan, baik bagi si pendonor maupun resipien atau si penerima donor, maka pendonoran menjadi tidak boleh atau dilarang.

Sebagai contoh, bila Anda akan mendonorkan ginjal, Anda harus memeriksakan diri ke dokter ahli ginjal. Apabila menurut analisis dokter tidak ada masalah dengan kedua ginjal Anda dan bila salah satunya didonorkan secara medis, Anda dinyatakan sehat, berarti halal bagi Anda mendonorkan ginjal Anda. Namun sebaliknya, bila ternyata pengambilan ginjal bisa mengakibatkan Anda sakit, maka Anda tidak boleh melakukannya.

Kesimpulannya, kita boleh mendonorkan apa pun, seperti mata, ginjal, atau organ tubuh lainnya, dengan beberapa syarat, yakni baik si pendonor maupun si penerima donor, berdasarkan analisis dari ahli, tidak akan memadharatkan. Artinya, pendonor tidak celaka karena mendonorkan organ tubuhnya dan resipien juga bisa menerima organ tubuh yang ditransplantasikannya.

Pada zaman Rasul hal ini tidak ada karena saat itu teknologi kedokteran masih minim. Namun, isyarat-isyarat untuk melakukan hal itu jelas ada, di antaranya firman-firman Allah yang tadi telah saya kutip. Wallahu a’lam bishawab.

***

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 22 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment