Wahai Pemuda, Mengapa Masih Tunda Nikah?

Islam sangat menganjurkan umatnya segera melakukan amal kebajikan dan melarang menunda-nundanya,apalagi dalam urusan amal saleh. Banyak ayat Al Quran dan hadis yang menganjurkan kita segera menyerakan menyelesaikan satu urusan lalu segera mengerjakan urusan lainnya. Semua agar hidup kita lebih bermakna dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan. Kesehatan itu pada hakekatnya adalah sebuah amanah yang harus segerai kita tunaikan. Secara umum hidup kita harus ditujukan untuk beribadah, sepertu yang Allah Swt berfirmankan:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (beribadah) “.(Q.S. Adz-Dzaariyaat:56)

Makna ibadah sendiri sangat luas yang menyangkut segala aspek dalam hidup kita. Intinya segala aktivitas kita harus bernilai ibadah dihadapa Allah sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Namun dengan berbagai alasan kita sering menunda-nunda amal saleh tersebut yang terkadang berujung pada tidak mengerjakkan sama sekali karena waktunya telah habis atau sebab lainnya. Mungkin kita sering mendengar orang mengatakan atau berasalan:

“Nanti saja kalau sudah ini,saya akan mengerjakan itu”. Atau ucapan, “ Mumpung masih muda kita puas-puaskan berbuat maksiat, gampang kalau sudah tua kita sadar dan tobat.”

Sungguh betapa kejinya ucapan ini. Apakah dia tahu kalau umurnya akan panjang ? Kalau seandainya dia ditakdirkan panjang, apa ada jaminan dia akan sadar ? Atau justru akan bertambah kesesatannya ?! Padahal Allah sudah  mengigatkan:

donasi perpustakaan masjid

“Sesungguhnya, ilmu tentang hari Kiamat hanya milik Allah. Allah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di daerah mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Bila kita menunda-nunda amal kebaikan bisa menjadikan amal baik yang akan kita lakukan itu tidak terlaksana. Itu karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput diri kita.Boleh jadi karena menunda-nunda amal ajal keburu menjemput diri kita sehingga kita tidak sempat melakukan amal baik yang telah kita niatkan.Untuk urusan agar kita menyegerakan amal saleh baiknya kita renungkan hadis yang dibawakan Khalifah Ali r.a yang mengabarkan, Rasulullah s.a.w pernah bersabda kepadanya :

” Hai ‘Ali, tiga perkara janganlah engkau mengakhirkannya. Yaitu sholat apabila tiba (waktunya), jenazah apabila telah sempurna (kematiannya), dan wanita jika telah menemukan pasangan yang sepadan dengannya ” ( HR. Tirmidzi )

Nah untuk urusan yang ketiga tersebut,yakni segera menikah jika telah menemukan pasangan nampaknya saat ini banyak anak muda khususnya generasi Islam yang menundanya dengan berbagai alasan,seperti belum siap,masih muda,belum mapan,belum ketemu yang ideal dan sebagainya. Bisa jadi segala alasan tersebut mungkin bentuk “ketakutan” yang berlebihan. Jika harus menunggu siap seratus persen,kapan?. Jika mengaku masih muda,umur berapa mau menikah?.Jika harus menunggu ketemu pasangan ideal sesuai kriteria subyektif, kapan?. Jika harus menunggu hidup mapan, harus punya harta berapa dulu baru menikah?.
Memang tidak salah,bahwa untuk menikah harus ada persiapan,mental,umur,harta dan calon yang sekufu dan sebagainya.Namun sekali lagi jangan berlebihan bahkan mengada-ada dalam menetapkan syarat-syarat menikah secara pribadi yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam untuk criteria cukup jelas (bagi pemuda),seperti yang di sampaikan Rasulullah Saw:

“Dinikahi wanita atas dasar empat perkara: karena hartanya,karena kecantikannya,karena keturunannya dank arena agamanya. Barangsiapa yang memilih agamanya,maka beruntunglah,” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dalam kesempatan lain,Rasulullah Saw,juga pernah memberikan nasehatnya kepada para sahabat khususnya kepada kaum laki-laki dalam urusan kriteria menikah,seperti:

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya,sebab kecantikan itu akan lenyap dan jangan kamu menikahi mereka (wanita) karena hartanya,sebab harta itu akan membuat dia sombong. Akan tetapi,nikahilah mereka karena agamanya,sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama,” (HR.Ibnu Majah).

Pilih yang cantik tidak dilarang,cenderung kepada yang berharta boleh saja tapi jangan abaikan soal agamanya.Jadikan agama sebagai alasan utama untuk memilih dia. Sederhana bukan?

Tujuan Menikah

1. Sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Nikah juga dalam rangka taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Apabila suami memiliki niat dan tujuan baik dalam nikah seraya ikhlas hanya karena Allah SWT, Rasulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhmya semua perbuatan adalah dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang tergantung dari niatnya.” (H.R. Muttafaqqun Alaih) Firman-firman Allah SWT dan Hadits-hadits Rasul SAW telah menganjukan pernikahan dan menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memerintahkan hamba-Nya untuk menikah.

2. Untuk mcnjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang (‘iffah), membentengi diri (ihshan) dan mubadho’ah (bisa melakukan hubungan intim).

Pada hakekatnya nikah merupakan shadaqah. Rasulullah SAW bersabda: “Dan di kemaluan salah satu di antara kamu adalah shadaqah. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, apakah ketika salah satu di antara kami mendatangi syahwatnya akan mendapatkan ganjaran? Rasulullah SAW menjawab: Coba lihat! Jika syahwat tadi disalurkan ke tempat yang diharamkan, apakah ia akan kena dosa? Mereka menjawab: Ya. Rasulullah SAW berkata: Begitupun halnya jika seseorang menyalurkan syahwatnya ke tempat yang dihalalkan maka ia mendapat ganjaran pahala.” (H.R. Muslim dan An-Nasa’i)

3. Menyempurnakan agama

Hal senada telah diriwayatkan oleh Anas r.a., beliau berkata: Apabila seorang hamba menikah maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah SWT untuk separuh sisanya. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah SWT dari dua keburukan maka ia akan masuk surga: Sesuatu di antara dua bibir (lisan) dan sesuatu di antara dua kaki (kemaluan).” (H.R. at-Tirmidzi, menurutnya, Hadits Hasan Gharib, diriwayatkan juga oleh al-Hakim dalam Mustadrak, menurutnya, Isnadnya Shahih, al-Zahabi meyetujuinya dan al-Bani mentash-hihkan dalam al- Sahihah)

5. Menikah termasuk sunnahnya para utusan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Empat perkara yang menjadi bagian sunnahnya para utusan Allah SWT: Rasa malu, berwangian, siwak dan nikah.” (H.R. at-Tirmidzi, menurutnya: Hadits Hasan Shahih)

6. Melahirkan anak yang dapat memintakan pertolongan

Allah untuk ayah dan ibu mereka saat masuk surga. Dari sebagian sahabat, mereka mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Di hari kiamat nanti orang-orang disuruh masuk ke dalam surga, namun mereka berkata, Wahai Tuhan kami, kami akan masuk setelah ayah dan ibu kami masuk lebih dahulu. Kemudian ayah dan ibu mereka datang. Maka Allah SWT berfirman, Kenapa mereka masih belum masuk ke dalam surga, masuklah kamu semua ke dalam surga! Mereka menjawab, Wahai Tuhan kami, bagaimana nasib ayah dan ibu kami? Kemudian Allah menjawab, Masuklah kamu dan orang tuamu ke dalam surga .” (H.R. Ahmad dalam musnadnya)

7. Menjadikan ketenangan dan kecintaan dalam jiwa suami dan isteri. Allah SWT telah bersinyalir dalam firman-Nya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Q.S.Ar Ruum:21)

Masih banyak lagi tujuan hidup bersama dalam bingkai rumah tangga yang diawali dengan prosesi pernikahan.Wahai pemuda jangan biarkan hartamu engkau hamburkan dengan cara mentraktir “si dia” yang belum tentu jadi istrimua. Wahai pemudi jangan biarkan kecantikan masa mudamu dinikmati lelaki yang bukan suamimu. Wahai para orangtua jangan biarkan buah hatimu membujang terlalu lama dan membiarkan mereka menikmati indahnya hidup dengan “hubungan tanpa status”. Inilah anjuran Rasulullah itu:

“Apabila datang kepadamu seorang yang engkau sukai agama dan akhlaknya untuk mengkhitbah (meminang),maka terimalah !. Kalau itu tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumu,” (HR.Tirmidzi)

Selagi kesempatan masih diberikan, jangan menunda-nunda lagi. Akankah seseorang menunda hingga apabila ajal menjemput, betis bertaut dengan betis, sementara lisanpun telah kaku dan tubuh tidak bisa lagi digerakkan ? Dan engkau pun menyesali umur yang telah dilalui tanpa bekal untuk suatu kehidupan yang panjang.Dengan mengetahui keutamaannya dan bagian dari sempurnanya ibadah,masihkah ingin menunda menikah jika telah siap?.Selain itu, bila menunda-nunda amal baik bisa menyebabkan niat kita menjadi berubah karena ketika kita menunda-nunda berbuat baik, sama dengan membuka kesempatan pada hawa nafsu dan kepada syetan untuk mengganggu dan menggoda diri kita untuk tidak melakukan kebaikan karena hawa nafsu dan setan senantiasa mengajak kepada keburukan dan menghalangi untuk berbuat kebaikan. Disarikan dari buku “Mengapa Menunda Nikah ?”, karya Aam Amiruddin & Ayat Priyatna Muhlis, penerbit Khazanah Intelektual.

(Visited 37 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment