Dilema Wanita Karier

TANYA :

Saya adalah seorang istri dan ibu dari dua anak (usia balita dan SD) yang berkarier sebagai pegawai negeri. Saya sudah bekerja jauh sebelum menikah dan sampai saat ini masih tetap menjadi PNS untuk membantu keuangan suami. Suami masih mengizinkan saya untuk terus bekerja. Namun, saya mulai ragu dengan peran saya sebagai ibu yang baik mengingat saya sering meninggalkan anak untuk keperluan kerja. Saya minta solusi dari Teh Sasa. Jazakillah khair atas saran-sarannya.

JAWAB :

Ibu yang dirahmati Allah Swt., saya bisa memahami kegalauan hati ibu. Tentu sangat berat bagi seorang ibu untuk bekerja di kantor dan meninggalkan anak di rumah. Pastinya, saat di kantor ibu senantiasa teringat anak dan tidak tenang  karena tidak bisa menyertai setiap momen penting pertumbuhan mereka.

Semakin dini  usia anak, semakin besar ketergantungan kepada lingkungan sekitarnya, terutama pada ibu. Usia balita adalah waktu yang tidak boleh dilewatkan karena pada saat itu kita mengoptimalkan  jalinan kedekatan, trust (kepercayaan), serta personal touch atau sentuhan  kedekatan  personal  yang komprehensif melalui berbagai stimulasi, baik fisik (motorik), emosional, spiritual dan intelektual. Sebagai contoh dalah optimalisasi  pemberian ASI eksklusif yang mengharuskan seorang ibu siap sedia berada di samping buah hati.

Selanjutnya, ketika anak menginjak usia SD, tetap saja dia membutuhkan perhatian ekstra dari ibunya. Hal tersebut sebagai bagian kelanjutan proses pemberian teladan, pembiasaan penanaman fondasi akidah, atau keimanan sebagai bejalnya menuju usia balig. Meski tentunya dengan intensitas waktu yang berbeda, namun komunikasi tetap harus berjalan lancar sehingga setiap saat sebaiknya ibu ada untuk mereka.

Pantas saja dalam hadits diterangkan bahwa kaum ibu mempunyai kedudukan mujahidah bila dapat menjalankan peran sebagai istri dan ibu secara optimal. Subhanallah!

“Siapa di antara kalian para istri dan ibu ikhlas tinggal di rumah untuk mengasuh anak-anak dan melayani segala urusan suaminya maka dia akan mendapat pahala yang kadarnya sama dengan  para mujahid di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sebagai seorang ibu, alangkah bijaksana bila kita menyadari hal tersebut dan membuat  skala prioritas. Idealnya, seorang ibu mempunyai kegiatan atau jam kerja yang fleksibel dan dapat mengajak serta anak  ketika harus beraktivitas di luar rumah. Contohnya adalah kerja paruh waktu (part time job) atau wiraswata sehingga manajemen waktunya bisa diatur sendiri.

Sebenarnya, tanggung jawab nafkah keluarga ada di pundak ayah atau suami. Dalam Islam, kepemimpinan sang ayah sebagai pencari nafkah utama tercantum dalam firman-Nya berikut ini.

“Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)  dan dengan sebab sesuatu yang telah (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 34)

Soal besar atau kecilnya nominal penghasilan suami, hal tersebut menjadi sesuatu yang relatif bergantung kebutuhan tiap keluarga yang bersangkutan serta cara menyesuaikannya dengan standar kebutuhan sandang, papan, dan pangan masing-masing keluarga. Di sinilah peran ibu sebagai pemimpin dalam  urusan rumah tangga yang harus berpartner dengan suami. Jadilah istri dan ibu yang amanah sebagaimana kelanjutan ayat ke-34 Surat An-Nisaa tersebut.

BACA JUGA  Warga Bandung Ngaji Bareng Qari' Youssef Edghouch

“Maka perempuan-perempuan yang shaleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada sebagaimana Allah telah memeliharakan dirinya.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 34)

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Dan seorang istri itu adalah pengatur di dalam rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap yang diaturnya itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Tentunya, sang ibu akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas perannya sebagai istri dan ibu kelak di akhirat.

Maka reward atau balasan terbaik insya Allah disediakan untuk ibu, yaitu seperti digambarkan dalam hadits berikut. “Jika perempuan mengerjakan shalat yang lima, shaum Ramadhan, memelihara kehormatannya, dan taat kepada suaminya maka akan dikatakan kepadanya, masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Kembali ke pertanyaan ibu. Apabila kini ibu masih benar-benar membutuhkan pekerjaan tersebut, hal itu bisa saja tetap dilakukan asalkan atas alasan yang dibenarkan, misalnya nafkah dari suami yang tidak cukup (meski sebenarnya ukuran tidak cukup di sini pun relatif ). Hal tersebut bisa saja dikategorikan sebagai keadaan darurat (berarti temporer dan tidak selamanya). Ibu mempunyai dua pilihan. Pertama, substitusi peran pemelihara dan pendidik anak harus diseleksi dan diserahkan pada orang yang tepat. Carilah pengasuh  yang benar-benar amanah, sabar, sayang, dan mengerti betul proses perkembangan anak (jelas ini tak mudah).

Perlu diketahui bahwa kedudukan istri yang bekerja seperti ibu adalah sedekah atau amal shaleh kebaikan istri kepada suami. Nafkah yang didapat istri tidak menggantikan posisi kewajiban suami atau mengurangi kewajiban suami dalam memberikan nafkah kepada istri. Suami tetap dituntut untuk bekerja keras menafkahi ibu dan anak-anak. Ini perlu disampaikan agar jangan sampai para suami terlena dan alfa akan kewajibannya tersebut.

Kedua, ibu keluar dari pekerjaan tersebut. Selebihnya, bertawakal mencukupkan nafkah dari suami saja sehingga ibu leluasa mengasuh anak secara langsung. Kalau memungkinkan, ibu terus mencari peluang berwiraswata atau bekerja partime seperti yang saya kemukakan sebelumnya.

Setiap pilihan mengandung risiko. Maka, saya kembalikan semua pada hati kecil, kekuatan doa, serta ketawakalan ibu kepada Allah Swt. Semoga ibu mendapat jalan keluar yang terbaik menurut Allah Swt. Semoga pula jalan keluar atas permasalahan ibu dapat dijadikan bekal amal shaleh serta membawa kebaikan buat suami, anak, keluarga dan umat. Amin. Wallaahu a’lam.. (Hj. Sasa Esa Agustiana)

(Visited 96 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment