Dilema Pilih Nikah atau Merawat Ibu

TANYA :

Teh Sasa, saya terlahir dari keluarga broken home. Saya dan adik-adik berada dalam pengasuhan Papa. Setelah bercerai, baik Papa maupun Mama menikah lagi dan membentuk keluarga masing-masing. Belum lama ini, Mama baru saja ditinggal suaminya yang berpulang ke rahmatullah. Sebagai anak pertama, saya mempunyai tanggung jawab untuk merawat dan memenuhi kebutuhan adik-adik dan Mama mengingat beliau sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Mungkin sekaranglah saatnya bagi saya untuk mengabdi kepada Mama. Masalahnya, pada saat yang hampir bersamaan, ada ikhwan yang hendak meminang saya dan saya merasa klik dengan ikhwan tersebut. Selain itu, kami mengaji di ustadz yang sama sehingga hubungan kami memang sudah mendapatkan lampu hijau dari ustadz yang bersangkutan. Saya sudah menjelaskan kondisi saya yang harus merawat Mama, tetapi sang ikhwan ingin agar kami cepat-cepat menikah.

Saya jadi bingung, Teh. Mana yang harus saya dahulukan, memenuhi kewajiban saya sebagai seorang anak yang sudah seharusnya menjaga dan mengabdi kepada ibu (ini pasti perlu waktu lama) atau mendahulukan itikad baik ikhwan yang ingin meminang saya? Mohon sarannya ya Teh. Jazakillah.

***

donasi perpustakaan masjid

JAWAB :
Ukhti yang dirahmati Allah Swt., ukhti patut bersyukur karena masih diberi kesempatan umur untuk berbakti kepada kedua orangtua, sekalipun mereka telah berpisah. Tidak ada istilah broken home untuk berbakti kepada kedua orangtua. Insya Allah, semua ada hikmahnya. Ujian keimanan dan kesabaran yang telah ukhti lalui melebihi rata-rata mereka yang dikaruniai keluarga yang masih utuh. Semua peristiwa yang ukhti lalui semoga menjadi jalan untuk menemukan kasih sayang-Nya.

Alhamdulillah, saat ini ukhti diberi kesempatan untuk lebih intens berbakti kepada ibunda tercinta. Manfaatkanlah kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya sebagai wujud syukur ukhti kepada Allah Swt. Sekaranglah saatnya bagi ukhti untuk meluangkan waktu dan mencurahkan kasih sayang kepada ibunda tercinta.

Etika atau cara berbakti kepada orangtua terdapat pada firman-Nya. berikut ini.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (Q.S. Al-Isra [17]: 23-25)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu. Dan, jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(Q.S. Luqman [31]: 14-15)

“…sehingga apabila ia (anak itu) telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.”(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 15-16)

Mengenai ikhwan yang melamar ukhti, bisa jadi ia adalah jodoh dan bisa juga bukan jodoh ukhti. Wallaahu a’lam. Firman Allah Swt.,

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya dan tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Q.S. Al-An’am [6]: 59)

Ya, Allah Swt. sendirilah Yang Maha Mengetahui segalanya. Di sini, saya hanya memberikan pertimbangan dan semua diserahkan pada kemantapan hati ukhti sendiri karena bagaimanapun ukhti yang akan menjalani pernikahan tersebut dan bukan ustadz yang menjadi mediator. Kenalilah sebaik-baiknya ikhwan yang ukhti maksud dan bukan hanya mengenalinya berdasarkan data-data di atas kertas.

Istikharah dan mohonlah kepada Allah untuk diberikan jodoh yang memenuhi unsur kebaikan dalam hal kepribadian, agama, dunia, dan akhirat. Kalau memang ia sudah memenuhi kriteria yang ukhti harapkan, silakan menikah dan tidak usah khawatir tentang Mama. Saya yakin, seorang ibu akan merestui bila anaknya secara baik-baik menyampaikan niatnya menikah dan sang calon menantu menunjukkan itikad baik untuk serius memperistri anaknya. Insya Allah, mama dan papa ukhti (sebagai wali nikah), akan turut berbahagia.

Mengenai kebutuhan biaya hidup adik-adik dan mama tercinta, Insya Allah Dia Yang Mahakaya akan membukakan jalan-Nya sepanjang kita berusaha dengan maksimal dan tetap menjaga niat yang lurus untuk mencari kebaikan dunia dan akhirat sambil tetap menjaga tali silaturahmi.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannnya maka Allah akan memberikan kekayaan di dalam hatinya, dan Allah akan memberikan kekuatan untuknya dan dunia akan mendatanginya sekalipun dengan terpaksa, dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Allah akan menjadikan kemiskinannya di antara kedua matanya dan akan mencerai-beraikan kekuatannya, serta dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.”

Dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal maka Dia pasti memberikan rezeki kepada kalian sama seperti Dia telah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi pada waktu pagi dengan perut yang kosong dan pulang waktu sorenya dengan perut yang kenyang.”
Jadi, luruskanlah niat dan Allah Swt. tidak akan salah memberikan rezeki kepada hamba-Nya yang giat berusaha dengan berlandaskan iman dan takwa. Wallaahu a’lam.

(Hj. Sasa Esa Agustiana)

(Visited 36 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment