Berguru pada Seekor Kecoa

Oleh : Ir. H. Bambang Pranggono, MBA.

Sesungguhnya Allah tidak malu memakai perumpamaan seperti nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 26)

iklan donasi pustaka2

Sebetulnya, tanpa harus mendalami sains dan teknologi, manusia sudah bisa merasakan ke-Maha Besar-Nya dengan memandang besarnya pegunungan atau luasnya langit. Hal menarik terjadi ketika Allah menyebut binatang kecil dan hina dalam Al-Qur’an agar manusia menemukan kebesaran-Nya. Karenanya, kita pun kemudian harus belajar memahami paradoks.

Nyamuk adalah serangga berukuran kecil yang dimusuhi manusia karena dianggap sebagai penyebar malapetaka malaria dan demam berdarah. Namun demikian, Allah malah menyebutnya dalam Al-Qur’an dan seolah-olah menantang ilmuwan muslim untuk terus mencari keunggulan nyamuk dan hewan kecil lainnya yang dianggap hina.

Nah, serangga kecil lain yang dianggap hina selain nyamuk adalah kecoa. Mereka sering disebut sebagai hewan yang membahayakan kesehatan. Benarkah kecoa tidak berguna?

Para ahli sudah lama berteori bahwa kecoa adalah binatang yang akan tetap survive terhadap radiasi ketika perang nuklir menghancurkan dunia. Dr. Simon Lee, ilmuwan peneliti dari Universitas Nottingham, menemukan bahwa ternyata kecoa memiliki sesuatu yang istimewa. Kecoa ternyata mempunyai daya antibiotik yang sangat kuat. Dalam jaringan tubuhnya ada sembilan molekul berbeda yang merupakan racun mematikan bagi bakteri berbahaya.

Ternyata, karena kecoa hidup di tempat yang tidak sehat dan tidak higienis, tubuhnya berhasil mengembangkan sistem pertahanan diri yang ampuh melawan mikro organisme yang mematikan. Jaringan otak dan sistem saraf kecoa bisa membunuh lebih dari 90 persen infeksi MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus) dan E-coli tanpa merugikan sel tubuh manusia. MRSA sendiri adalah bakteri bandel penyebab infeksi yang membahayakan manusia dan sudah kebal terhadap obat antibiotik. Namun demikian, kecoa sanggup mengalahkannya.

Rupanya, kita harus berguru kepada kecoa yang sering kita hina namun mampu bertahan hidup dalam situasi yang sangat parah. Wallahu a’lam

Editor Bahasa: Santy

(Visited 24 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment