dr. Ariani: “Bagaimana Pun Kondisinya, Ibu Harus Tetap Menyusui”

ASI merupakan kebutuhan pokok bayi sampai ia berumur enam bulan (ASI ekslusif). Jika kebutuhan tersebut dapat dipenuhi, risiko gizi buruk pada bayi dapat dihindarkan. Karena itulah, setiap ibu hendaknya memberikan ASI kepada anaknya. Namun demikian, dikarenakan satu dan lain hal, beberapa ibu tidak dapat memberikan ASI kepada buah hatinya.

Satu dari ibu tersebut adalah dr. Ariani. Ibu dari dua bayi ini berhalangan memberikan ASI eksklusif pada anak pertamanya. Karenanya, ia tidak mau hal yang sama terjadi pada anak keduanya. Kesadaran memberikan ASI ini ia tularkan kepada ibu-ibu lain di Indonesia melalui blog parentingislam.wordpress.com serta pelatihan dan konsultasi. MaPIOnline kembali menyajikan wawancara dengan konselor ini di kediamannya di Cibereum, Bandung. Berikut petikan lengkapnya.

iklan donasi pustaka2

Mengapa ASI eksklusif penting bagi bayi?

Banyak alasan yang mendasarinya. Pertama, ASI mengandung banyak gizi yang diperlukan oleh bayi. Bahkan sampai berumur satu tahun, ASI masih dapat mencukupi 60 persen kebutuhan bayi. ASI juga merupakan sumber gizi yang sesuai dengan tumbuh kembang bayi sehingga tidak akan menimbulkan alergi. Kedua, ASI dapat meningkatkan kecerdasaan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak diberi ASI memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi dibanding yang tidak. Ketiga, ASI mudah dicerna karena kondisinya setengah matang sehingga tidak akan mengganggu pencernaan bayi. Keempat, ASI menurunkan resiko gigi berlubang karena tidak banyak mengandung gula seperti susu sapi. Kelima, ASI mengandung zat yang dapat mengatur nafsu makan sehingga bayi tak akan mengalami kegemukan. Keenam, pemberian ASI mempunyai efek yang baik bagi masa depan bayi, seperti kekebalan lebih terjamin, mengurangi resiko terkena penyakit (seperti kanker, diabetes, dan jantung koroner). Ketujuh, pemberian ASI sesuai dengan prinsip asah asih asuh (stimulasi, kasih sayang, dan nutrisi). Anak yang diberikan ASI biasanya akan lebih mudah bergaul. Bayi yang diberi ASI telah terbiasa menerima kasih sayang sehingga ia pun terbiasa memberikan kasih sayang.

Apakah ada manfaat ASI untuk ibu?

Sebagai seorang ibu, manfaat menyusui dapat saya rasakan pada saat melahirkan anak kedua. Ketika melahirkan anak kedua, saya mengalami pendarahan. Dalam kasus pendarahaan, resiko tertinggi adalah meninggalnya ibu akibat kehabisan darah atau diangkatnya rahim ibu yang bersangkutan. Saya mengalami dua hal tersebut. Namun, sebelum mengambil keputusan, saya memberikan ASI dini kepada anak saya. Alhamdulillah, secara perlahan, pendarahan tersebut berhenti.

Dari segi kedokteran, manfaat ASI bagi ibu adalah mengurangi anemia, mengatur kehamilan dengan tingkat keberhasilan mencapai 80%, mengembalikan bentuk badan ibu, serta dapat mengurangi depresi yang timbul setelah melahirkan.

Jika ibu tak dapat memberikan ASI eksklusif, apakah ada efek untuk ibu dan bayinya?

Dilihat dari dampak kesehatan, bayi yang tidak diberikan ASI cenderung lebih sering sakit karena seperti telah disebutkan bahwa ASI dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Secara emosional dan psikologis, pemberian ASI dapat mempererat kedekatan antara ibu dan anak. Dari segi ekonomi, pemberian ASI pasti lebih murah dibandingkan dengan susu formula. Hasil penelitan menyatakan bahwa rata-rata setiap bayi membutuhkan 55 dus susu per enam bulan. Dengan memberikan ASI, orangtua dapat menghemat pengeluaran keluarga.

Kalau ibu berhalangan memberikan ASI, apakah hal tersebut dapat digantikan dengan susu formula?

Tidak. Tentu tidak dapat disamakan antara ASI dengan susu hewan. Bahkan, kandungan ASI pada setiap ibu pun berbeda. Nah, kalau antara satu ibu dengan ibu lainnya saja berbeda, bagaimana bisa ASI disamakan dengan susu formula yang notabene berasal dari hewan. Oleh karenanya, ASI tidak dapat tergantikan dan pemberian ASI langsung oleh ibu tetap lebih baik. Secara pribadi, saya merasakan hal itu. Ketika saya memberikan susu formula kepada anak pertama, ia sering sekali mencret (karena tidak cocok). Saya pun kerepotan harus mencari susu (formula) yang cocok dan terkadang (susu) yang cocok itu harganya mahal.

Bagaimana tingkat kesadaran ibu-ibu Indonesia dalam memberikan ASI?

Masih dapat dikatakan kurang. Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia cukup tinggi. Saya melihat salah satu penyebabnya adalah ibu yang tidak mau memberikan ASI kepada bayinya.

Mengapa ibu-ibu tersebut tidak mau memberikan ASI-nya?

Ada dua faktor. Pertama, faktor internal atau faktor yang berasal dari ibu yang bersangkutan. Kebanyakan ibu di Indonesia tidak mempunyai pendidikan yang cukup (untuk menjadi seorang ibu). Banyak wanita Indonesia yang menikah pada usia muda dan secara batin mereka belum siap menjadi ibu. Kedua, faktor eksternal, seperti kesadaran dan rendahnya pengetahuan orang di sekitar ibu akan pentingnya ASI. Kurangnya sosialisasi mengenai pentingnya memberikan ASI, belum diterapkannya kebijakan pemerintah mengenai waktu kerja ibu yang menyesui, serta paradigma umum yang menyatakan bahwa menyusui itu kampungan ikut memperparah kondisi ini.

Bagaimana cara meningkatkan kesadaran ibu untuk memberikan ASI?

Pada dasarnya, apa pun kendala, situasi, dan kondisi yang dihadapi ibu, ia tetap harus memberikan ASI pada bayinya. Hal tersebut dapat terjadi jika ibu memiliki kesadaran akan pentingnya ASI. Ibu harus yakin terlebih dahulu mengapa (why) dia harus memberikan ASI kepada bayinya. Dalam proses penumbuhan motivasi ini, dibutuhkan dukungan dari orang terdekatnya, terutama suami. Selanjutnya, ibu harus tahu bagaimana cara (how) memberikan ASI yang baik dan cukup bagi bayinya, apapun kondisinya.

Bagaimana dengan ibu bekerja yang sulit memberikan ASI eksklusif pada bayinya?

Ya. Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, kebijakan pemerintah yang tertuang dalam UU 1994 masih belum dilaksanakan dengan baik. Berdasarkan UU tersebut, seharusnya setiap instansi harus memberikan waktu luang bagi pekerjanya (yang memiliki bayi) untuk menyusui bayinya. Jadi, ibu harus dapat menyiasati hal tersebut, misalnya dengan menyiapkan stok ASI (dengan cara memerah ASI) sebelum berangkat kerja.

Bagaimana cara memerah ASI yang baik?

Dapat dilakukan dengan atau tanpa alat. Sekarang telah banyak tersedia alat untuk memerah ASI di pasaran dan cara penggunaannya pun dijelaskan di kemasannya. Setiap alat perah ASI memiliki bentuk yang berbeda-beda sehingga ada yang hanya memakai tangan kanan saja dan ada juga yang membutuhkan kerja kedua belah tangan. Kalau tidak memakai alat, caranya cukup mudah. Dua buah jari di taruh di sekitar payudara yang berwarna hitam. Tekan ke dalam, setelah itu tarik ke depan sambil tetap dipencet. ASI pun akan keluar dan harus ditampung dalam wadah yang bermulut lebar.

Berapa lama masa simpan ASI perahan tersebut?

Tergantung cara penyimpanannya. Jika di simpan di suhu ruangan, ASI perahan bisa bertahan sekitar empat jam. Kalau disimpan di ruangan yang ber-AC, ASI perahan dapat bertahan antara enam sampai delapan jam. Kalau di dalam kulkas (bukan di frezeer), ASI perahan dapat bertahan selama dua hari. Sedangkan kalau di freezer, ASI perahan dapat bertahan hingga dua minggu. Kalau disimpan pada suhu di bawah 2000 derajat Celcius, maka ASI perahan dapat bertahan sampai dua bulan.

Apakah ada hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI?

Subhanallah, Allah menciptakan segala sesuatu dengan seimbang. Produksi ASI dalam tubuh ibu dirancang secara otomatis sesuai dengan kebutuhan bayi. Ketika bayi mengkonsumsi ASI dalam jumlah banyak, maka produksinya akan semakin banyak. Namun ketika ibu jarang memberi ASI, tubuh ibu menganggap bahwa permintaan terhadap ASI semakin kecil sehingga produksinya pun disesuaikan. Tidak jarang, keengganan ibu untuk memberikan ASI mengakibatkan ASI-nya kering. Untuk mencegah hal itu, ibu harus tetap mengeluarkan ASI-nya.

Di luar negri, ada konsep Bank ASI. Menurut Anda, bagaimana jika hal tersebut diterapkan di Indonesia?

Di Indonesia yang kebanyakan penduduknya umat Islam, sepertinya kebijakan tersebut perlu dikaji lagi. Pemberian ASI bukan hanya masalah kecukupan gizi bayi, namun juga penurunan DNA dan pembuatan ikatan keluarga. Dalam Islam, saudara sepersusuan haram dinikahi. Karenanya, pemberian ASI tidak boleh dilakukan sembarangan. [Dewi]

Editor Bahasa: Santy

(Visited 4 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment