Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan: “ASI Tak Mungkin Terganti”

PEMBERIAN ASI sangat besar manfaatnya bagi bayi. Menurut Pakar Gizi Masyarakat, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek dan salah satunya adalah aspek gizi. ASI tak sekedar makanan dan minuman pelepas lapar dan dahaga bagi buah hati. Lebih pokok lagi, ASI merupakan asupan gizi yang mampu menolak segala masalah gangguan tumbuh kembang pada bayi dan anak di bawah usia dua tahun (baduta), baik menyangkut fisik maupun kecerdasannya. Dengan kata lain, menurut Ali, ASI mengandung sel-sel hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit.

Sel-sel hidup yang terkandung dalam ASI tidak akan pernah ada dalam susu formula apa pun. Hal tersebut terkait dengan kolostrum yang terdapat pada ASI. “Fungsi kolostrum pada ASI yaitu pertama, mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi dan terutama diare. Kedua, jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.” Selanjutnya (yang ketiga), “kolostrum ini pun mengandung protein, vitamin A yang tinggi, dan mengandung karbohidrat serta lemak rendah sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran bayi. Terakhir, ASI membantu mengeluarkan mekonium, yaitu kotoran bayi yang pertama yang berwarna hitam kehijauan,” ungkapnya.

iklan donasi pustaka2

Tidak diragukan lagi bahwa setiap keluarga menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi putra-putri yang berkualitas. “Anak yang diberikan ASI secara penuh selama 6 bulan atau lebih memiliki kecenderungan perkembangan mental yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak diberikan ASI. Selain itu, ASI juga melindungi anak atau remaja dari kelebihan berat badan,” tegas Ali.

Dari segi penurunan resiko terhadap berbagai penyakit akut maupun kronis, menurut Ali, pemberian ASI setidaknya selama 6 bulan mampu mengurangi infeksi saluran pencernaan (diare), infeksi saluran nafas bawah (flu), infeksi saluran kencing, infeksi telinga (otitis media), dan reaksi alergi (seperti dermatitis atopi dan asma). Ini dikarenakan ASI berisi antibodi bakteri dan virus, termasuk kadar antibodi IgA sekretori dan makrofag dalam kolostrum yang relatif tinggi hingga mampu mencegah mikroorganisme.

Sebaik-baiknya susu (formula), ia tidak bisa menggantikan ASI. Karenanya, pemahaman pentingnya memberikan ASI harus terus tertanam dalam benak setiap ibu yang memiliki bayi, baik yang hanya menjadi ibu rumah tangga maupun yang berperan ganda (bekerja di luar rumah). Menurut Ali, setiap ibu perlu memahami tiga komposisi yang terkandung dalam ASI. “Pertama, ASI amat mudah dicerna. Selain mengandung zat gizi yang sesuai, ASI juga mengandung enzim-enzim untuk mencerna zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI itu sendiri. Kedua, setiap ibu harus paham bahwa ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi,” jelasnya. Ketiga, selain mengandung protein yang tinggi, ASI juga memiliki perbandingan antara Whey dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whey dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung Whey lebih banyak dibanding Casein, yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. “Sedangkan pada susu sapi, perbandingan Whey dan Casein adalah 20:80 sehingga ia tidak mudah diserap,” lanjut Ali.

Dengan begitu, sebaiknya ASI tetap diberikan dengan cara apa pun. Bagi ibu bekerja, upayakan jadwal khusus untuk bisa menyusui bayinya. Dengan begitu, ibu tidak melepaskan kewajibannya untuk memberikan hak bayi menerima ASI. Paling tidak, hal tersebut dilakukan dalam beberapa bulan, minimal enam bulan.

Selain itu, Ali menambahkan bahwa ASI juga mengandung Taurin, DHA, dan AA. Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan mengakibatkan gangguan pada retina mata. Sedangkan Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal.

Untuk memaksimalkan aspek gizi ini, hal yang perlu dicatat oleh setiap ibu menyusui adalah mengatur pola makan dan minum. Ibu menyusui memerlukan makanan dan minuman yang syarat dengan gizi yang diperlukan bayi. Seorang ibu perlu memahami bahwa makanan dan minuman yang dikomsumsi tidak hanya untuk kepentingan dirinya. Ya, ibu menyusui harus mengatur pola dan jenis makanan yang dikonsumsi untuk keperluan buah hati, di samping untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. [Ahmad]

Editor Bahasa: Santy

(Visited 7 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment