ASI, Untuk Kebaikan Siapa, Sih?

DI SELA-SELA keriaan menyambut lahirnya buah hati, ada gundah dalam benak seorang ibu. Benar dia menyayangi anak yang baru saja dilahirkannya melebihi apa pun. Benar dia rela mengorbankan apa pun demi kesehatan dan kebaikan sang buah hati. Benar dia akan berbuat segalanya yang terbaik demi melihat tumbuh menjadi manusia berguna. Namun demikian, selalu ada tanya di hati seorang bunda, “Haruskah aku berikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada anakku?”

Mengapa seorang ibu meragu seperti itu? Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah mitos yang berkembang di masyarakat selama ini. Dua dari sekian mitos menyusui yang paling ditakutkan seorang ibu adalah bahwa menyusui dapat membuat payudara kendur serta dapat membuat nafsu makannya menggila sehingga bentuk badan susah kembali ke ukuran semula.

iklan donasi pustaka2

Perlu ibu ketahui bahwa kedua mitos tersebut salah besar. Ya, menyusui tidak akan membuat payudara ibu mengendur. Saat hamil, perubahan hormon membuat payudara berisi penuh dengan ASI sehingga ukurannya pun membesar. Setelah periode menyusui usai, payudara akan kembali ke ukuran semula. Hal inilah kemudian yang membuat payudara sedikit kendur. Perlu diketahui bahwa hal ini tidak perlu ditakutkan. Dengan pijatan atau senam payudara serta pemilihan bra yang tepat, keindahan bentuk payudara bisa dipertahankan.

Mitos yang menyebutkan bahwa menyusui akan membuat ibu susah menurunkan berat badan adalah salah besar. Justru dengan menyusui, ibu dapat menurunkan berat badan dengan lebih cepat. Hal ini dikarenakan pada saat menyusui, timbunan lemak semasa hamil diubah menjadi energi.

Selain mitos, laju modernitas yang salah arah membuat sebagian ibu enggan memberikan ASI pada bayinya. Mereka berbendapat bahwa memberikan ASI sudah ketinggalan zaman. Toh saat ini para ilmuwan sudah menciptakan susu formula yang kandungan gizinya hampir sama dengan ASI. Kepraktisan pun menjadi salah satu alasan wanita ‘”modern” tidak memberikan ASI-nya. Bayangkan, bagaimana mereka harus menjaga profesionalitas kerja kalau tiap jam tertentu harus keluar kantor demi memberikan ASI. “Cukup anak diberi susu formula dan anak bisa ditinggalkan di rumah bersama baby-sitter. Lebih praktis bukan?” demikian hemat mereka.

Sebagian ibu yang lain tidak memberikan ASI karena terkendala kesehatan seperti ASI yang tidak keluar atau semacamnya. Seperti kasus di atas, susu formula pun dianggap menjadi solusi permasalahan tersebut. Tahukah mereka bahwa pada zamannya, Rasulullah telah memberikan solusi atas permasalahan mereka? Ya, bagi ibu-ibu yang berhalangan memberikan ASI, mereka harus mencari ibu lain yang berkenan memberikan ASI kepada anaknya mengingat kebaikan ASI tidak dapat digantikan oleh susu formula merek apa pun. Tentu saja, hal ini melahirkan konseksuensi yang harus diperhatikan seperti ikatan sepersusuan yang pada gilirannya nanti akan melahirkan hukum syar’i tertentu (tidak boleh menikah) antarsesama saudara susu. Ini merupakan solusi zaman Nabi yang saat ini dianggap kuno sehingga saat ini pelaksanaannya jarang kita temui.

Duh, ibu… Seandainya saja mereka tahu bahwa ASI diciptakan oleh Allah Swt. demi kebaikan bersama, tentu mereka tidak akan bertindak sedemikian rupa. (muslik)

Editor Bahasa: Santy

(Visited 12 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment