Asmaa Abdol-Hamid: Simbol Perjuangan Muslimah Denmark

MASIH ingatkah Anda dengan perempuan bernama Asmaa Abdol-Hamid? Ia adalah seorang muslimah yang menjadi sorotan dunia, khususnya di Denmark. Bagaimana tidak, ia terpilih menjadi anggota Parlemen Denmark dari daerah pemilihan Udinesse pada 24 April 2005. Asmaa yang mengenakan jilbab ini menjadi wanita muslimah pertama yang menduduki jabatan penting di Denmark. Imej Negara Denmark yang sempat terpuruk di mata umat Islam akibat penayangan gambar kartun Rasulullah Saw. di harian Jyllands Posten, sepertinya sedikit terangkat oleh sosok Asmaa.

Belum lama ini, ia kembali menjadi sorotan dunia ketika menjadi presenter televisi pertama yang tampil berjilbab di Denmark. Asmaa membawakan sebuah program sepanjang 8 episode yang disiarkan di TV-Station Denmark Radio 2 atau Channel 2 (salah satu stasiun nasional terkemuka di Denmark) pada 29 Maret 2006. Pada program yang berjudul Adam og Asmaa, ia tampil bersama seorang wartawan Denmark, Adam Holem. Program ini membicarakan masalah sosial yang terjadi di Denmark, termasuk di dalamnya tragedi karikatur Nabi Muhammad Saw.

Sosok Asma telah dianggap menjadi pelopor perjuangan muslimah, terutama di Negara Barat yang notabene berpenduduk muslim minoritas. Asma berupaya memberi gambaran dan penampilan yang baik tentang muslimah berjilbab dalam semua gerak-geriknya, baik saat bekerja, belajar, atau dalam kegiatan sehari-hari lainnya. Asmaa tetap teguh pada prinsip dan ajaran Islam dalam semua kegiatan tersebut.

Asmaa dilahirkan sebagai seorang muslimah di Uni Emirat Arab, pada tahun 1981. Ayah dan ibunya adalah muslim pengungsi dari Palestina. Bedanya, sang ayah mengungsi di kamp pengungsian di Lebanon sedangkan ibunya mengikuti sang kakek yang hidup di Uni Emirat Arab. Ibu dan ayahnya baru bertemu ketika sang Ibu datang ke Lebanon untuk mengikuti pelatihan guru. Ibu dan ayahnya melanjutkan hidup mereka di UEA. Sang ayah bekerja sebagai supir dan pengantar barang. Kehidupan mereka yang dikaruniai satu orang putra dan lima orang putri ini (termasuk Asmaa) tergolong cukup bahagia.

Namun, keadaan berubah ketika Israel menyerang Lebanon pada tahun 1982. Ayah Asmaa yang merupakan anggota PLO (Palestine Liberation Organization) mendapatkan berbagai masalah. Salah satunya, sang ayah harus dipenjara semata-mata karena terdaftar sebagai pengungsi Palestina yang tidak mempunyai kewarganegaraan sebagaimana juga dialami oleh kebanyakan pengungsi Palestina lainnya. Karena keadaan tidak membaik, ibu Asmaa akhirnya menghubungi Dansk Flygtningehjælp (Dewan Pengungsi Orang Denmark) pada tahun 1986. Dewan ini kemudian memberikan kewarganegaraan dan izin tinggal di Denmark kepada keluarga Asmaa. Sang ayah baru bergabung delapan bulan kemudian. Sejak tahun 1987, ia dan keluarganya tinggal di Abenra, Denmark. Di sini, mereka menetap tidak lama. Ketika Asma berumur 14 tahun, keluarganya pindah ke Rodekro dan tak berapa lama kemudian, keluarganya pindah lagi ke Vollsmose (pinggiran Kota Odense) pada tahun 1998 untuk memberikan pendidikan yang layak bagi Asmaa dan enam saudaranya.

promo oktober

Dalam kehidupan bermasyarakat di Denmark, Asmaa melihat bahwa ia dan keluarganya termasuk minoritas di Denmark. Bukan hanya karena agama, namun juga karena tradisi dan nilai yang sangat berbeda dengan mayoritas masyarakat Denmark. Hal itu sangat menarik perhatiannya dan ia pun menemukan wadah untuk menyalurkan ketertarikannya tersebut. Asmaa bergabung dengan sebuah forum debat DSU (Denmarks Social Demokratiske Ungdom/Social Democratic Youth of Denmark) dan secara tak langsung itulah yang menjadi awal mula ia turun ke dunia politik.

Ketertarikannya terhadap diskriminasi minoritas muslim juga membawanya ke bangku kuliah di Copenhagen College of Social Work. Pada tahun 2004, ia lulus dan menjadi salah satu pekerja sosial di kota Roskilde yang menangani permasalahan yang timbul di keluarga imigran. Satu tahun kemudian, ia terpilih menjadi anggota parlemen dari partai the Danish Red-Green Alliance di kota Udinesse. Perhatian media mulai tertuju padanya ketika Asma menolak berjabat tangan dengan lawan jenisnya. Ia hanya menaruh tangannya di dada sebagai bentuk salam. Ia pun menjadi juru bicara 11 organisasi Islam yang protes kepada harian Jyllands-Posten yang memuat kartun Nabi Muhammad Saw. Pada tahun 2006, ia mengejutkan dunia dengan tampil sebagi presenter televise Denmark dengan menggunakan jilbab.

Setahun kemudian, ia mencalonkan dirinya di Folketing. Ia merupakan satu dari tujuh kandidat yang ada dari partai the Danish Red-Green Alliance. Hampir semua imam di Denmark mendukungnya pada pemilihan tahum 2007. Sayang ia tidak terpilih. Namun, ia tetap duduk di parlemen untuk menggantikan Johanne Schmidt-Nielsen.

Perjalanan hidup Asmaa banyak menghadapi rintangan. Dalam pandangan masyarakat Eropa yang sering mencapur adukan antara Islam dan Arab, sehingga ia sering dipandang berbeda. Salah satunya karena ia berjilbab dan hal itu selalu menjadi bahan pertanyaan media yang mewawancarainya. “Mengapa Anda menggunakan jilbab yang merupakan kebudayaan yang berasal dari Arab?” tanya salah satu media. Asmaa pun akan menjawab, “Menggunakan jilbab merupakan keputusannya sendiri.” Menurut Asmaa, keputusannya menggunakan jilbab bukan karena mengikuti tradisi atau ibunya yang menggunakan jilbab. Hal itu dilandasi oleh keyakinannya untuk menjalankan syariat Islam sebagai seorang muslimah dan berjilbab merupakan pilihannya sebagai umat Islam, bukan sebagai keturunan Arab.

Bukan hanya dari luar Islam, rintangan pun datang dari saudara sesama muslim. Ketika tinggal di Vollsmose yang terdiri dari 78 kelompok etnik berbeda, Asmaa dan saudara-saudara perempuannya harus menghadapi diskriminasi gender. Hal ini merupakan warisan buruk budaya Arab, perempuan direndahkan oleh kaumnya sendiri. Kebanyakan perempuan di tempat tinggalnya hanya beraktivitas untuk sekolah-rumah dan rumah-sekolah. Ketika seorang anak perempaun bermasalah, maka tindakan yang diambil adalah dengan mengurungnya di rumah atau mengisolir dari dunia luar. Keprihatian tersebut membuat Asmaa dan saudara-saudara perempuannya membentuk PAF (Pigernes Aktivitetsforening atau Klub Aktivias Untuk Pempuan) pada tahun 2000. Organisasi ini membantu permasalahan perempuan dengan saling diskusi dan berbagi. Klub ini juga yang mendorong perempuan di sekitar tempat tinggalnya untuk memperoleh pendidikan yang layak seperti halnya yang diterima para pria. Pada saat itu, tak sedikit masyarakat yang menentang klub ini. Namun, klub ini tetap berdiri sampai sekarang dan memberikan dorongan pada perempuan agar memeroleh kesempatan yang sama dengan pria. [Dewi]

Editor Bahasa: Desi

(Visited 13 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment