Inilah Rahasia Sukses Tria Sembuh dari Kecanduan Merokok

Seorang remaja putri menghampiri temannya, saat itu Ia sedang asyik menikmati hisapan rokok yang hampir habis. “Kok masih ngerokok, kan sudah tahu bahayanya,” sindir sang remaja putri. Ia cukup terganggu dengan asap yang mengepul dan menyebar ke seantero kelas. Kemudian, perokok yang juga bersekolah di tempat itu menjawab, “Habis, enak sih. Lagi pula, berhentinya susah.” 

Hmmm, apa iya berhenti merokok merupakan hal yang sulit untuk dilakukan? Mungkin ada benarnya sebab hingga kini baru 3% dari jumlah perokok di dunia yang akhirnya bisa hidup tanpa rokok. Maka tak heran jika kini muncul berbagai lembaga konsultasi yang menjual jasa pengobatan berhenti merokok dalam tiga menit. Ada pula Indonesian Hypnosis Association yang bisa menjadi mitra perokok untuk penyembuhan.

Pada dasarnya, perokok aktif dibagi ke dalam dua golongan, perokok berat dan ringan. Kesulitan untuk bisa berhenti merokok tentu saja akan lebih banyak dialami oleh mereka yang termasuk perokok berat. Kecanduan rokok sama halnya dengan kecanduan obat-obatan. Bertaubat dari kebiasaan dan kecanduan mengonsumsi barang tersebut seakan-akan hal mustahil terjadi.

Untuk perokok yang kesulitan berhenti, tengoklah kisah musibah membawa berkah yang dialami salah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung berikut ini.

Tria Budi Santoso (21 th), mantan perokok.  Sejak duduk di bangku SD (sekolah dasar), Ia sudah kenal dan menikmati barang beracun itu. Hal tersebut terjadi karena pergaulannya cenderung berteman dengan orang yang lebih tua darinya. Ia kecanduan rokok hingga penghujung masa SMP-nya (sekolah menengah pertama). Menginjakkan kaki di kelas pertama SMA (sekolah menengah atas), ia berhenti karena dokter menyatakan paru-parunya sudah tak sehat lagi. Dengan alasan menjaga kesehatan, Tria termotivasi untuk berhenti. Selesai!

Semudah itu? “Tentu tidak,” tukas Tria. Hasrat untuk kembali menghisap rokok seringkali terlintas dalam benaknya. Bayangan akan nikmatnya makan disertai merokok selalu terbayang-bayang di alam pikirannya, buru-buru Ia tepis seraya berharap tidak akan pernah kembali menjadi perokok. Khawatir dengan khayalannya tersebut, Tria menyibukkan diri di berbagai aktivitas organisasi sekolah, termasuk menjadi dewan rohis untuk memperkuat imannya. Saat ini, kondisi yang dimilikinya sudah sangat kondusif.

Sayangnya, perubahan itu tak dapat belangsung lama. Menjajaki dunia perkuliahan dan menghadapi lingkungan baru, Tria kembali dihadapkan pada keinginan yang dulu terbuang. Ya, kembali pada rokok. Ia berteman lagi dengan rokok hingga hampir sepuluh batang rokok berhasil Ia hisap setiap hari. Tidak di kelas tidak kantin, di mana-mana ia mengepulkan asap pembuangan rokok. Sampai suatu momen datang dan mengubah hidupnya seketika.

Satu hari di tahun 2009, Tria mengikuti sebuah turnamen basket di kampus. Panas matahari menyengat tubuh pemain yang sedang berlaga di lapangan basket. Entah dari mana sebabnya, mendadak Tria limbung dan terjatuh pingsan, Ia harus dilarikan ke rumah sakit. Ia divonis mengidap Bronchitis akut!

Kejadian yang sempat dialami Tria memukul hati orangtuanya. Beruntung, Tria tertampar dan berjanji tidak akan mengecewakan keduanya. “Saya tidak pernah melihat mereka menangis dan memohon seperti waktu itu. Saya bulatkan tekad untuk berhenti merokok kedua kalinya,” tutur Tria yang kini menjadi vokalis sebuah band. Berbekal keyakinan dan usaha sekuat tenaga, sejak pertengahan 2009 ia bebas dari jeratan rokok yang menggerogoti tubuhnya. “Ketika seseorang sudah menjadi pecandu rokok, memang akan terasa sulit untuk berhenti. Namun demikian, saya yakin bisa berhenti,” ungkap Tria saat diwawancarai Majalah Percikan Iman.

Pasti ada sesuatu yang hilang setelah berhenti, misalnya nikmatnya merokok setelah makan. Namun, lambat laun hal itu terimbangi dengan perubahan positif lainnya, seperti yang dirasakan Tria secara khusus. “Sejak berhenti merokok, vokal Saya terdengar lebih bagus dan uang jadi gak kebuang-buang,” ujar Tria diiringi sedikit tawa.

Bagi Tria, momen berharga yang pernah dialaminya telah mengubah pandangan hidupnya saat itu. Itulah  karunia terdahsyat yang diberikan Allah Swt. kepadanya. Ia patut bersyukur. “Orang berhenti merokok itu kan sebabnya berbeda-beda. Ada yang lewat musibah alias terserang penyakit dan ada yang tidak. Meski dengan jalan diberi musibah, saya tetap merasa beruntung,” tandasnya. Kengeriannya melihat kematian yang timbul akibat rokok juga memantapkan hatinya untuk benar-benar sembuh dari kecanduan rokok. Tria pernah membaca data terbaru dari sebuah situs yang menyebutkan bahwa tembakau sedikitnya membunuh 5 juta orang/tahun. 

Ya. Tidak diragukan lagi bahwa merokok tetap memiliki kerugian yang jauh lebih banyak dibanding manfaatnya. Kerugian semakin parah manakala sang perokok adalah kaum perempuan. Untuk perokok yang sebagian besar berasal dari kalangan remaja, merokok bisa menjadi kebiasaan buruk yang akan dilakukan hingga dewasa, bahkan tua nanti. Bagi yang sudah tua, apa alasan kesehatan dan penghematan keuangan keluarga tidak cukup menjadi alasan untuk berhenti? 

Ditanya seputar fatwa pengharaman rokok, Tria berpendapat bahwa tidak ada yang sepenuhnya mutlak positif dan negatif. “Fatwa tersebut bernilai positif dan negatif. Positifnya agar perokok bisa berhenti sedangkan negatifnya perlu ada beberapa koreksi dari isi fatwa tersebut, misalnya penggunaan kata “haram” yang sebagian besar orang sudah antipati duluan mendengarnya,” tutup Tria.

Penulis : Hanifah

Editor Bahasa: Santy

(Visited 20 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment