Waspada, Ada Racun dalam Jajanan Buah Hati Anda

Oleh : Eddy Fadlyana, dr., Sp.A(K.), M.Kes.

Kecukupan gizi anak masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia. Bagaimana tidak, berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa 27,5 persen balita mengalami gangguan gizi sedang sampai berat. Asupan gizi anak sekolah di beberapa wilayah Indonesia sangat memprihatinkan. Padahal, setiap harinya dibutuhkan asupan gizi yang mencukupi supaya anak-anak tersebut memiliki pertumbuhan kesehatan dan perkembangan intelektual yang baik. Maka, hal tersebut menjadi modal untuk membentuk generasi bangsa yang unggul kelak di kemudian hari.

iklan donasi pustaka2

Situasi ini diperparah dengan pilihan jajanan di sekolah yang ternyata sangat berisiko mengganggu kesehatan, baik yang berakibat jangka pendek atau pun jangka panjang. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan fakta baru, sekitar 60 % jajanan anak sekolah (seperti minuman ringan, es cendol, dan kue ringan lainnya) tidak layak konsumsi karena mengandung zat pewarna tekstil serta 50 % di antaranya mengandung unsur kuman/mikroba. Biasanya, anak yang gemar jajan sembarangan di sekolah adalah mereka yang tidak mau atau tidak selera makan di rumah. Tidak terjaminnya kandungan gizi dalam jajanan yang mereka konsumsi akan membuat mereka kerap terserang diare, anorexia nervosa, dan defisiensi zat besi pada anak perempuan.

Untuk mengurangi kebiasaan anak sekolah makan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah (kepala sekolah, guru, murid), masyarakat (orang tua murid), serta pedagang. Salah satu bentuk solusi yang dapat diambil antara lain adalah Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS). Program ini membutuhkan koordinasi yang baik antara pihak sekolah, departemen agama, dan persatuan wali murid di bawah pengawasan Pusat Kesehatan Masyarakat setempat. Kolaborasi pihak-pihak tersebut diwujudkan dengan menyajikan makanan ringan pada waktu istirahat sekolah atau makan siang yang bisa diatur porsi dan nilai gizinya.

Selain untuk menghindarkan anak dari jajan sembarangan, program ini juga bertujuan agar anak diperkenalkan pada berbagai jenis bahan makanan yang mungkin tidak disukai ketika disajikan di rumah. Dengan demikian, anak dapat mengenal lebih banyak aneka bahan pangan yang mungkin belum ia kenal sebelumnya. Bila upaya tersebut belum dapat terealisasi, maka alternatif lainnya adalah orangtua harus lebih aktif menyiapkan bekal makanan bagi anak.

Pada umumnya, anak memilih jajanan atau makanan yang disenangi tanpa memikirkan kandungan gizi di dalamnya. Anak juga lebih mudah terpengaruh lingkungan disekitarnya (misal teman-temannya atau iklan televisi dan radio) dalam menentukan pilihan jajanan. Hal ini akan bertambah parah jika orangtua tidak memberikan arahan jenis makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi anak. Di sinilah diperlukan pengetahuan nutrisi bagi anak.

Di sekolah, anak harus diberi pendidikan nutrisi secara spesifik, baik berupa pengetahuan, praktek, serta sikap mengenai jenis makanan yang sehat. Pendidikan nutrisi ini tidak hanya terbatas pada pengetahun zat gizi mikro tetapi juga pengarahan atau perkiraan jumlah asupan makanan dan energi yang digunakan setiap hari bagi anak yang bersangkutan. Selain itu, anak juga harus diberi pengetahuan tentang bahan makanan yang tidak aman dikonsumsi. Hal ini juga dimaksudkan agar anak dapat menularkan pengetahuan nutrisi mereka kepada lingkungannya. Pengetahuan dan praktek lebih dulu dilakukan sehingga membawa perubahan pada anak, terutama sikapnya. Program ini dapat dilakukan secara perlahan namun pasti sehingga anak tidak merasa ditekan atau dipaksa melakukannya.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah pemerintah dan pihak sekolah bekerja sama menggiatkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). UKS dapat dijadikan sarana penyampaian pendidikan nutrisi di sekolah misalnya dengan mengajak anak membuat poster atau gambar tentang makanan yang sehat dan bebas dari bahan sintetis. Salah satu pendekatannya bisa dengan membentuk tim khusus seperti healthy food club. Tim tersebut beranggotakan anak-anak yang didampingi guru dan dapat berdiri sendiri atau dimasukan dalam struktur UKS.

Pemenuhan kebutuhan gizi dalam keluarga, erat hubungannya dengan gaya hidup keluarga yang bersangkutan. Untuk itu, pendidikan nutrisi ditujukan bagi setiap anggota keluarga secara menyeluruh. Cara mengolah dan memasak bahan makanan serta memilih bahan makanan yang baik untuk dimasak merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan oleh setiap anggota keluarga. Sarapan pagi bagi anak usia sekolah sangatlah penting karena aktivitas belajar di sekolah membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Menu sarapan pagi harus memenuhi kebutuhan ¼ kalori sehari. Dengan mengonsumsi 2 potong roti dan telur, satu porsi bubur ayam, serta satu gelas susu dan buah, anak akan mendapatkan 300 kalori. Bila tidak sempat sarapan, sebaiknya anak dibekali dengan makanan/snack bergizi lengkap dan seimbang seperti arem-arem, mie goreng, atau roti isi daging. Ini dilakukan agar anak terhindar dari mengonsumsi jajanan di sekolah yang memang dipertanyakan keamanannya bagi kesehatan anak.

Di tingkat masyarakat, pendidikan nutrisi dapat diberikan dalam pertemuan/perkumpulan atau organisasi kemasyarakatan. Lebih spesifik, hal ini dapat dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat berupa dibentuknya tim kader nutrisi. Tim ini perlu dibekali pengetahuan nutrisi yang memadai melalui pendidikan dan pelatihan. Dalam hal ini, pemerintah (terutama dinas kesehatan atau puskesmas) setempat dapat ikut memberi peranan dan dukungan dalam memberikan pengetahuan nutrisi pada kader nutrisi tersebut. Peran kader nutrisi ini di antaranya adalah menginformasikan pesan-pesan gizi, pelayanan gizi, dan pemanfaatan lahan pekarangan.

Semoga, kerjasama semua pihak ini dapat menyelamatkan putra-putri bangsa dari kekurangan gizi serta ancaman makanan-makanan berbahaya.

Editor Bahasa: Santy

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment