Tips Aman Bertransaksi di ATM

 Oleh : Yudha Yudhanto

Pemberitaan  tentang kasus pembobolan ATM (Anjungan Tunai Mandiri atau Automatic Teller Machine) di sejumlah kota besar di Indonesia pernah kita dengar beberapa tahun lalu. Kasus semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak penggunaan ATM mulai marak di Indonesia, sejak saat itu pula pembobolan uang nasabah via ATM kerap terjadi. Namun demikian, kasus tersebut biasanya tidak terlalu dipublikasikan karena menyangkut prestise bank yang bersangkutan. Umumnya, kasus pembobolan ini terjadi memang dikarenakan keteledoran (kurang cermat menjaga kerahasiaan PIN) konsumen itu sendiri.

Sebenarnya, kejahatan perbankan sangat beragam, dari yang halus sampai tindak kriminal kasar. Misalnya saja pencurian kartu ATM, hacking internet banking, skimming, social engineering yang dilakukan penjahat terhadap pemilik rekening itu sendiri, serta kejahatan fisik (yang termasuk katagori tindak kriminal kasar) seperti perampokan bank telah banyak terjadi.

iklan donasi pustaka2

Kasus yang terjadi beberapa waktu lalu diindikasikan sebagai tidak kejahatan dengan cara skimming. Perlu diketahui, proses skimming membutuhkan cara yang tidak singkat karena ada beberapa prosedur yang harus dilakukan oleh sang pelaku. Selain itu, skimming juga harus didukung oleh keberadaan teknologi kamera yang canggih serta perekam data yang saat ini makin mudah didapatkan di pasaran.

Menurut seorang pakar forensik teknologi informasi (Ruby Z. Alamsyah), skimming adalah proses peng-copy-an data kartu magnetik secara ilegal. Proses ini melalui tahap-tahap berikut.
1. Pencurian data magnetik sebuah kartu ATM.
2. Pembuatan duplikasi kartu berdasar data yang didapatkan di langkah pertama.
3. Pengintaian atau perekaman PIN.
4. Pencocokan dan proses pemindahan atau penarikan uang tunai.

Proses pertama, ketiga, dan keempat biasanya terjadi di ruang mesin ATM atau lokasi merchant (toko yang bekerja sama dengan pihak perbankan). Alat untuk mengambil data-data magnetik disisipkan di mulut lubang kartu ATM. Pengintaian user yang sedang memasukkan PIN dilakukan oleh kamera yang diletakkan di keyboard atau di dinding atap ruangan yang menghadap ke mesin ATM. Untuk menyamakan kartu ATM dengan PIN bisa dilihat dari jam, menit, dan detik perekaman.

Sementara itu, pembuatan kartu ATM duplikat bisa dilakukan dengan memakai printer IDcard yang bisa dibeli secara bebas di pasaran. Kejahatan dengan modus seperti ini biasanya menggerogoti nilai rekening dengan hati-hati alias sedikit demi sedikit sehingga pemilik tidak merasa bahwa uangnya sedang dicuri. Tereksposnya pembobolan ATM beberapa waktu yang lalu diduga sebagai kesalahan pembobol ATM yang menguras uang sejumlah nasabah dalam jumlah besar dan dalam rentang waktu hampir bersamaan sehingga memunculkan reaksi keras dari para korbannya.

Salah satu tips jitu untuk menghindari kejahatan ATM ini adalah dengan memperhatikan keamanan PIN. PIN atau password untuk mesin ATM berbeda dengan PIN atau password yang biasa digunakan untuk pada internet atau aplikasi lainnya. PIN ATM hanya merupakan kombinasi angka nol (0) sampai dengan sembilan (9). Saat ini, rata-rata bank meminta enam digit PIN walaupun ada juga beberapa bank yang masih menggunakan PIN dalam empat digit.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga keamanan PIN adalah sebagai berikut.
1. Perhatikan surat pemberitahuan PIN dari bank. Surat tersebut harus Anda terima dalam keadaan masih utuh dan baik.
2. Hancurkan kertas (surat) yang berisi PIN dari bank segera setelah kita mengganti dengan PIN yang baru. Ingat:
a. yakinkan bahwa tidak ada orang di sekitar kita pada saat membuat PIN baru;
b. hindari pembuatan PIN dengan angka tanggal lahir pribadi atau orang terdekat, nomor alamat rumah (misal RT, RW, dan lain sebagainya), telpon pribadi atau plat nomor kendaraan, serta angka favorit (seperti 123456, 111111, dan seterusnya).
c. jangan pernah memberitahukan PIN kepada orang lain, bahkan petugas bank sekali pun;
d. jangan ragu menegur orang yang iseng mengintip ketika kita sedang memasukkan PIN;
e. jangan pernah menuliskan PIN di mana pun. Hafalkan PIN tersebut.
f. ganti PIN secara berkala, bila perlu sebulan sekali;
3. Lekas lakukan pelaporan dan pemblokiran jika ATM diketahui hilang.

Beberapa keteledoran yang kerap dilakukan pemilik kartu ATM yang membuatnya menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan adalah sebagai berikut.
1. Menuliskan PIN di kartu ATM, diary, dompet, dan ponsel.
2. Menyuruh orang lain untuk mengambilkan uang di ATM yang membuatnya secara otomatis memberitahukan PIN kartu ATM-nya.
3. Panik sehingga mudah terpancing mempercayai orang di sekitarnya,  sangat mungkin orang itu merupakan pelaku kejahatan yang sedang mencari mangsa.

Dalam bertransaksi di ATM, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan demi keamanan rekening tabungan kita. Beberapa hal tersebut antara lain di bawah ini.

1. Cari lokasi ATM yang relatif aman.
2. Perhatikan kondisi fisik ATM dan kondisi di sekelilingnya. Apabila ada hal-hal yang mencurigakan, lekas urungkan niat bertransaksi dan kalau perlu laporkan hal tersebut kepada bank yang bersangkutan.
3. Pada saat bertransaksi menggunakan kartu ATM di merchant, diharapkan nasabah memperhatikan kondisi alat EDC. Bila terdapat alat (device) mencurigakan yang menempel pada EDC atau semacamnya, lebih baik transaksi tidak dilanjutkan.
4. Jangan mudah percaya dengan bantuan orang lain di sekitar ATM. Waspadalah selalu!
5. ATM teraman adalah yang berada di dalam bank atau toko yang ramai dikunjungi orang.
6. Waspadalah bila ATM mengaku “rusak/out of order” sehingga uang tak bisa keluar, padahal Anda telah memasukkan kartu dan PIN. Jika hal tersebut terjadi, jangan berspekulasi dengan terus mencoba melakukan transaksi.
7. ATM drive-through adalah sasaran empuk untuk mencuri identitas kartu ATM karena pengemudi seringkali terburu-buru sehingga tidak memberi perhatian lebih.

Teknologi di bidang perbankan termasuk yang paling cepat kemajuannya. Hal ini memang sudah seharusnya dilakukan demi mengimbangi gencarnya usaha para penjahat perbankan. Ada salah satu usulan sebagai solusi kejahatan perbankan via ATM, yaitu dengan mengganti kartu ATM yang ada saat ini dengan kartu berteknologi microchip karena dinilai lebih aman dengan menggunakan identifikasi sidik jari. Namun demikian, hal tersebut sepertinya masih terkendala banyak hal seperti kemudahan akses bagi orang awam, banyaknya ATM yang harus di-upgrade, permasalahan di lapangan, serta kompabilitas dengan ATM yang ada di luar negeri.

Sementara menunggu datangnya teknologi baru tersebut, kita sebagai pengguna jasa perbankan tidak perlu ragu dan ketakutan yang berlebihan. Cukup dengan selalu berhati-hati dan mewaspadai berbagai model kejahatan perbankan (pembobolan ATM) yang kerap terjadi di sekitar kita. Semoga bermanfaat

Editor Bahasa: Santy

(Visited 8 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment