Napak Tilas Spiritual di Palestina (Bag 1)

Oleh : Zaenab Azzahra

Perjalanan mengesankan itu terjadi pada 10 hari hari kedua Ramadhan 1430 H/2009 M. Subhanallah, mengadakan perjalanan umrah di bulan Suci sungguh menjadi perjalanan spiritual yang syarat dengan hikmah. Dari tanah air, saya menggunakan pesawat menuju bandara internasional Bangkok untuk transit sebelum akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju Jeddah. Sesampai di Jeddah, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bis menuju Madinah dengan waktu tempuh selama lima jam.Sesampai di Madinah, untuk pertama kalinya saya bisa merasakan nikmatnya berbuka shaum di masjid Nabawi. Di Madinah, perjalanan napak tilaspun dimulai dengan mengunjungi Jabal Uhud yang kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Masjid Qiblatain, Pasar Kurma, Jabal Magnet, dan beberapa tempat bersejarah lainnya.Hari selanjutnya, ba’da shalat Jumat, perjalanan dilanjutkan menuju Mekah untuk melaksanakan umrah dengan miqot di Bir Ali. Di Masjidil Haram, saya masuk melalui pintu Babussalam dan akhirnya saya bisa menyaksikan Ka`bah (Baitullah) dari dekat, subhanallah! Selain melaksanakan ibadah umroh, saya juga melakukan ziarah ke Jabbal Tsur, Jabal Rahmah, dan Padang Arafah.Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya perjalanan menuju masjid Al-Aqsha sebagai tujuan napak tilas ini. Menuju Palestina, saya beserta rombongan masuk melalui jalur darat (Yordania). Dalam perjalanan menujut perbatasan Yordania-Israel, saya disuguhi pemandangan alam yang membuat hati dan pikiran tertunduk pada kekuasaan-Nya.

Sesampainya di perbatasan, pemeriksaan dilakukan tentara Israel dengan sangat ketat, khususnya di perbatasan Allenby Bridge dan Jembatan King Husein. Dari situ, kita masuk ke Israel dengan berbagai check point. Hal ini dikarenakan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik sehingga kita harus membuat visa terlebih dahulu di Yordania. Unik, bentuk visa yang dimaksud tidak ubahnya seperti tempelan (stiker). Sekadar tips, kalau mau berkunjung ke Palestina akan lebih nyaman apabila menggunakan travel agar tidak repot mengurus perizinan ini dan itu. Setelah dari Allenby Bridge, kita masuk melalui satu lagi check point dengan penjagaan tidak kalah ketat. Semua orang diperiksa dengan alat sensor yang sangat sensitif (x-ray). Di sini, tidak jarang beberapa passport ditahan tanpa alasan yang jelas. Tidak jarang pula tentara Israel mengajukan pertanyaan secara sangat detil kepala rombongan yang akan melintas. Setelah itu, pemeriksaan dilanjutkan di ruang check passport. Di sini, kita dilakukan verifikasi umur. Orang-orang yang umurnya lebih dari 50 tahun dibolehkan masuk dengan syarat difoto terlebih dahulu. Bagi yang berusia di bahwah 50 tahun, pemeriksaan dilanjutkan dengan mengisi formulir seputar tujuan pergi dan tempat menginap.

Setelah selesai melalui semua pemeriksaan tersebut, perjalanan ke Palestina dilanjutkan melalui jalur Tepi Barat dan tidak melewati Gaza. Karena itu, kami hanya bisa pergi ke Ramallah, Betlehem, Hebron dan Yerusalem. Di Ramallah, cuaca begitu sejuk karena masih dekat dengan Eropa. Angin yang berhembus di sini terasa dingin meski matahari bersinar dengan terik.

iklan donasi pustaka2

Palestina itu dibagi 3 wilayah; A, B, dan C. Wilayah A merupakan daerah khusus warga Palestina. Wilayah ini meliputi Tepi Barat yang terdiri dari kota Jericho, Betlehem (tempat kelahiran Nabi Isa), Hebron (di sana ada masjid Nabi Ibrahim), Ramallah, serta Gaza. Wilayah B merupakan wilayah bersama sehingga memungkiankan orang Palestina dan orang Israel masuk ke wilayah ini. Salah satu kota di wilayah ini adalah Yerusalem. Sementara itu, wilayah C merupakan wilayah otoritas Israel, seperti Tel Aviv dan Haifa. Meski peraturan menyatakan bahwa wilayah B adalah wilayah bersama, tapi pada kenyataannya, orang-orang dari wilayah A yang notabene adalah bangsa Palestina tidak boleh masuk ke wilayah tersebut. Untuk memasuki wilayah B ini, warga Palestina biasanya harus mengganti kewarganegaraan demi mendapatkan pekerjaan ini wilayah ini. Jadi, di wilayah B akan banyak kita temui orang muslim yang kewarganegaraan Israel, termasuk salah satunya adalah guide yang memandu perjalanan kami saat ini. Yang memisahkan ketiga wilayah A, B, dan C adalah tembok setinggi 8 meter dan panjang 703 km yang disebut Palestine-Israel Barrier. Inilah yang membuat susah orang-orang Ramallah, Betlehem, atau Hebron untuk masuk ke Yerusalem.

Di Ramallah, kami pergi ke kantor pemerintahan Palestina. Di sini, terdapat makam Yasser Arafat. Yang membuat saya heran, saat pertama kali saya shalat Subuh di salah satu masjid di sini, suasana begitu sepi meski saat itu adalah bulan Ramadhan. Ini berbeda dengan keadaan di Tanah Air yang selalu ramai ketika Ramadhan datang. Memasuki masjid, saya melihat ada beberapa orang yang sedang mengaji. Melihat kedatangan kami, mereka heran dengan penampilan kami yang berbeda. Beberapa dari mereka bertanya asal negara kami. Yang juga membuat saya heran adalah padamnya lampu masjid saat kami belum lama mengobrol. Setelah ditanya penyebabnya, ternyata ada tentara Israel yang mengawasi aktivitas di masjid ini. Tentara Israel tersebut tidak akan segan menangkap dan menahan muslimin yang mengadakan pengajian walau skalanya kecil sekalipun. Ketika ada di antara kami yang bermaksud mengirim berita ke Indonesia via warnet (kalau memakai laptop takutnya disita), kami pun diawasi. Di warnet, kami sempat ditanya alamat e-mail dan lain sebagainya. Ketika kemudian kami berhasil mengirim e-mail, ternyata gambar-gambar yang kami kirimkan (via e-mail) hilang. Sepertinya mereka meng-hack segala informasi yang ingin kami sampaikan.

Aktifitas kehidupan di sini, dari pagi sampai malam, selalu diawasi tentara Israel. Di setiap sudut terdapat menara-menara pengawas. Kehidupan masyarakat Palestina yang ada di Ramallah terisolasi karena adanya tembok pemisah. Mereka harus mandiri dalam segala hal karena bantuan dari luar negri tidak bisa masuk. Dalam hal makanan misalnya, mereka harus membuatnya sendiri. Alhamdulillah, tanah Palestina termasuk subur sehingga mereka bisa menanam buah-buahan dan sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Dalam hal transportasi, warga Palestina juga tidak lepas dari penerapan sistem yang dibuat Israel. Campur tangan Israel dalam segala hal membuat rakyat Palestina sangat terbatas dalam melakukan aktivitas, baik yang berkaitan dengan bisnis, sosia-politik, maupun keagamaan. Untuk plat mobil saja, Israel sudah membedakan antara plat rakyat Palestina dan rakyat bangsanya. Kalau warna hijau dan hitam berarti dari Palestina dan warna kuning berarti Israel. Hal ini membuat warga Palestina tidak bisa keluar masuk seenaknya.

Ketika kami melakukan perjalanan ke bukit Zaitun, di sana ada check-point lagi. Namun demikian, pemeriksaan tidak dilakukan secara perorangan. Tentara Israel-lah masuk ke dalam bis untuk melakukan tugasnya. Di bukit Zaitun terdapat lahan pekuburan orang-orang Yahudi. Orang Yahudi memiliki kepercayaan bahwa barang siapa dikubur di tempat itu, mereka orang pertama yang masuk surga. Boleh dibilang, pekuburan di bukit Zaitun adalah kuburan VIP dengan harga 80 ribu dollar saja. Mereka berpikir bahwa Tuhan pertama kali datang di sana.

Yerusalem itu dibagi menjadi 2 wilayah, Barat dan Timur. Wilayah barat itu miliknya orang Islam dan yang baratnya punya orang Yahudi. Yerusalem terkenal sebagai one city three faith, satu kota dengan tiga kepercayaan karena di sini ada pusat agama Kristen, Islam, dan Yahudi. Di Yerusalem ini terdapat gereja Siti Maryam yang diyakini terdapat makam Siti Maryam. Di Yerusalem juga terdapat perkumpulan orang Islam yang setiap minggunya sekitar 10 rumah milik mereka dihancurkan oleh Israel. Orang-orang Israel menganggap daerah itu milik mereka sehingga setiap penghuni rumah harus membayar pajak sekitar 3 ribu sekel atau sekitar 8 juta rupiah/bulan. Segala persoalan tersebut itu membuat kita terenyuh dan sedih. Kita tahu bahwa pada tahun 1948, Israel masuk dan mengambil banyak lahan di sana secara paksa. Terkadang, rumah yang bukan milik mereka diambil dan penghuninya diusir.

Yang menarik dari kota Yerusalem adalah keberadaaan satu kompleks yang bernama Old City atau kota lama yang dibatasi oleh dinding tinggi. Ada 4 wilayah, yaitu Islam, Kristen, Yahudi, serta Armenia, yang kesemuanya memiliki pusat peribadatan di sini. Bagi orang Kristen, di sini ada gereja tempat kebangkitan Yesus. Di sini juga ada Mesjid Al-Aqsa, tempat yang sangat suci untuk orang Islam. Di kota ini juga ada tempat suci orang Yahudi yang bernama Tembok Ratapan. Dan terakhir, di Yerusalem juga terdapat wilayah untuk orang Armenia. Mereka sebenarnya adalah orang Kristen tapi memisahkan diri karena beranggapan sebagai orang yang pertama kali menduduki wilayah itu selama berabad-abad.

(bersambung)

(Visited 13 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment